Brtt..brrtt..getaran yang di iringi lagu paramore dari handphone Astrid yang kuat menggetarkan meja seperti sedang terjadi gempa berskala tinggi saja,perlahan lahan tangannya keluar menjulur dari selimut menggapai handphone-nya dan mematikan alarm yang dia pasang. “Huaa..”dengan mulut yang di buka lebar dan rambut yang mengembang seperti rambut singa,Astrid duduk di atas tempat tidurnya dengan masker yang masih melekat di wajahnya. Tiba tiba handpone Astrid berdering,sebuah pesan dari Mela, “Trid jadi gak hari ini ngedaftarnya ??” ,dengan sigap jari jarinya yang mungil membalas pesan Mela. Hari ini Astrid memang punya rencana dengan Mela buat mendaftar di salah satu SMA favorit mereka. Dengan perpaduan rok berwarna coklat dan baju berwarna coklat yang lebih tua di tambah sentuhan blazer hitam Astrid tampak manis dan kelihatan klasik,dia kemudian sarapan sambil mengirimkan pesan singkat ke Mela “lo udah siap belum ??kalo udah mampir ke rumah gue yah jemput gue,ok !!” .
“Astrid...”terdengar suara Mela yang lembut memanggil Astrid,kemudian Astrid muncul dari balik pintu dan mengajak Mela masuk ke rumahnya“Eh,masuk dulu gue rapiin berkas gue,di meja ada roti lu sarapan ajah dulu kalo mau”. Mela pun mengambil dua potong roti kemudian mengoleskan selai,tak lama Astrid datang dengan menepuk bahu Mela yang sedang menggigit rotinya, “yuk,jalan” ajak Astrid, “tunggu dulu ,gue baru ngegigit satu gigitan lu udah ajak pergi niat nawarin makan gak sih” celetuk Mela sambil mengunyah roti yang ada di mulutnya , “heheh,ya udah maafin gue. Eh,gue pamit dulu yah sama mama gue sambil lo habisin tuh roti”. Kemudian Astrid memanggil mamanya yang ada di dapur, “ada apa Trid manggil mama??” dengan menampakkan dirinya dari dapur sambil berjalan menuju Astrid. “Hehe,Astrid mau pamit mam berangkat ngedaftar sama Mela” sambil memasang wajah sok imut di depan mamanya dan segera mencium tangan mamanya takut mendapatkan kultum di pagi hari dari mamanya. “Ya udah,kamu hati hati yah pulang langsung pulang” kata mamanya yang heran melihat anaknya yang sok imut itu. “Mam..” lagi lagi dengan wajah yang sok imut Astrid mengulurkan tangannya seperti pengemis , “apa lagi Trid ??” tanya mamanya yang mulai capek melihat muka Astrid , “ hehe,uang dong mam buat ongkos ke sana sama ongkos makan Astrid” dengan wajah manis yang berharap di kasi uang banyak sama mamanya, “ nih,,udah berangkat cepat nanti keburu banyak orang lagi” celoteh mamanya yang sudah capek lihat anaknya itu. “Mel berangkat yukkk,,” ajak Astrid ke Mela. “Mama Astrid pergi yah” teriak Astrid dari pintu sambil menenteng map pink berisikan fotocophy izajahnya yang sudah di legalisir dan pas foto buat jaga jaga kali ajah diperlukan kata Astrid.
Ternyata saking lamanya mereka datang,mereka berdua pusing melihat parkiran yang dipadati kendaraan dan para calon murid baru yang keluar masuk. “wadduh,,bagaimana masuknya nih Mel kalau jalannya ajah susah,bagaimana mau ngambil formulirnya” gerutu Astrid yang pusing melihat keadaan sekitarnya yang begitu ramai, “udah terobos ajah Trid,nanggung nih” dengan wajah yang sama pusingnya Mela mengajak Astrid nekat menembus barikade para pendaftar tersebut dari pada harus mendengar ocehan Astrid yang sebenarnya sepanjang jalan sampai sekarang gak ada habisnya. Akhirnya mereka berdua berhasil mendapatkan formulir setelah aksi dempet dempetan, mereka berduapun mencari tempat teduh dan nyaman buat mengisi formulir ,Astrid mengajak Mela ke koridor yang dia lihat “kita disini ajah ya Mel”kata Astrid sambil meniup sedikit debu yang ada di bangku itu. Tanpa sadar datang seorang cowok ,tiba tiba dia berhenti tepat di samping Astrid yang sedang duduk menunggu Mela mengisi formulir , “pinjam pulpen dong ”suara berat dan sedikit judes yang di keluarkan cowok tersebut membuat Astrid kaget karena dari tadi Astrid tidak memperhatikan sekitarnya,dia hanya asik menatap layar handphone-nya, “hha,nih”sentak Astrid sambil memberikan pulpennya dengan suara yang tak kalah judes dari cowok itu. Sementara Astrid yang sibuk kembali di depan layar handphone-nya,Mela hanya bisa diam dan melongo’ saperti anak autis melihat cowok yang ada di depannya seakan melihat pengeran ber-kuda putih saking takjubnya, “nih,makasih” dengan buru buru dan tegas cowok itu menaruh pulpen di atas bangku tepat di depan Astrid kemudian pergi, “aneh,ada juga orang kayak dia datang pergi bikin kaget mulu”gerutu Astrid tanpa dia sadar kalau teman yang ada di dekatnya itu mematung terhipnotis melihat cowok itu pergi.
***
Malamnya Astrid sibuk mempersiapkan peralatan yang dia akan bawa besok saat MOS pertamanya,bajunya pun sudah siap dan rapi tampak beberapa pita warna warni yang mungkin sudah jadi tradisi bagi murid baru di meja rias Astrid,serta papan nama gede’ yang bakalan di kalungin Astrid besok. Setelah semuanya lengkap Astrid berangkat dengan Ayahnya,sesampainya di sana Astrid tampak kebingungan mencari teman karena tidak ada satupun yang dia kenal. “Ayo,kalian semua baris menjadi 9 banjar laki laki dan perempuan” terdengar suara perempuan yang tegas dan terkesan berwibawa sehingga para murid baru tersebut tampak menurut apa yang di katakan perempuan itu. Sementara Astrid bingung ingin baris di mana, dia merasa sangat asing di antara kerumunan mereka semua,terpaksa Astrid cuek saja lalu asal masuk barisan.
Suasana ruangan sangat hening,yang terdengar hanya suara para pendamping memperkenalkan dirinya dan membacakan aturan aturan yang harus mereka patuhi selama MOS berlangsung dari tiap ruangan di sudut sudut sekolah, terdengar panggilan bagi para pendamping untuk keluar dari ruangan.Prakk..suara bantingan pintu mengagetkan semua murid baru yang ada di ruangan itu,tampak beberapa senior yang masuk dengan menggunakan almamater osisnya, “semuanya tundukkan kepala kalian” bentak salah seorang senior cowok dengan nada keras,Astrid dan yang lainnya menundukkan kepala seperti anak TK yang sedang berdoa tapi dalam hatinya menggerutu “eitss,,kayak gue kenal nih suara”gumamnya dalam hati ketika mendengar suara di dalam ruangan tersebut , “suara berat dan judes itu” sontak Astrid mengangkat kepalanya saat mendengar suara itu, “heii kamu kalau di suruh tunduk yah tunduk,berani melawan yah ??”bentak seorang senior cewek sambil menunjuk Astrid saat tidak melihat dia menundukkan kepalanya,spontan Astrid kaget karena ditunjuk dan dibentak kemudian dia langsung menundukkan kepalanya lagi tapi karena spontannya itu dia menundukkan kepala terlalu keras sehingga kepalanya terbentur di meja dan menimbulkan suara lumayan besar hingga satu ruangan mendengarnya,suara tawa kecil terdengar satu ruangan termasuk para seniornya, “sialan,malu banget gue mana gak lihat mukanya tuh cowok lagi”keluhnya sambil mengusap jidatnya yang terbentur. Bel berbunyi para murid baru terlihat keluar berhamburan dari ruangan mereka masing masing,Astrid yang sempat membuat tawa di dalam ruangan tadi tampak malu untuk keluar dari ruangan,dengan langkah perlahan dia melewati koridor di sekolah itu hingga akhirnya dia pasrah harus melewati lapangan yang super gede’ di penuhi para senior osis yang sedang ngumpul,semua mata tertuju pada Astrid terlebih dengan senior yang sempat ada saat kejadian memalukan di ruangan tadi,tapi ada satu mata yang sangat detail memperhatikannya,mata yang tajam,kaku,dingin,yah itu cowok yang pernah meminjam pulpen Astrid,tapi saat dia asik memandangi Astrid yang memiliki tubuh tinggi semampai,rambut bergelombang,mata yang coklat,tiba tiba dia merasa Astrid semakin mendekat ke arahnya,ternyata temannya memanggil Astrid dia merasa jantungnya semakin berdetak kencang, dan menatapi Astrid dengan tatapan dinginnya karena salah tingkah dan jaim saat Astrid semakin dekat,Astrid sendiri merasa takut harus menuju ke arah senior seniornya itu tapi sesampai disana dia hanya dihadapkan dengan beberapa pertayaan termasuk hal yang memalukan tadi,Astrid sempat takjub saat melihat senior yang pernah meminjam pulpennya itu,ternyata cowok judes dan aneh itu tidak seburuk yang dia fikir,cowok itu punya alis yang tebal,mata yang coklat,serta senyum yang khas,dan raut muka yang kaku sehingga tampak cool, “cocok deh buat di jadiin standart internasional” gumamnya dalam hati saat memperhatikan seniornya itu,sayang dia harus buru buru pergi sebelum di lontarkan pertanyaan aneh dari senior seniornya itu.
Hari kedua MOS,hari ini tidak ada lagi aksi mengejutkan tapi hari ini beberapa murid baru cewek dan cowok di panggil untuk acara pembukaan termasuk Astrid,saat latihan berlangsung Astrid merasa ada yang aneh dengan para seniornya itu,dia merasa selalu saja dirinya di panggil,sementara para senior cewek dan yang lainnya sudah tau kalau temannya itu naksir sama Astrid,makanya Astridlah jadi sasaran kajahilan para seniornya. Saat itu Astrid dikerjai oleh seniornya itu, Astrid merasa tidak senang hingga menampakkan ekspresi terjudesnya,seniornya yang tidak suka di tatap seperti itu karena merasa Astrid sudah tidak sopan spontan menggertak Astrid tanpa peduli kalau dia suka dengan cewek yang ada di hadapannya itu,Astrid yang yang nyolot karena tidak suka di perlakukan seperti itu membuat masalah jadi panjang,mulai dari sinilah di tiap perjumpaan mereka berdua pasti ada pertengkaran mulut atau mata,di mana mereka berdua sama sama punya mata yang tajam saat menatap,sama sama tidak ada yang ingin dikalah,dan sama sama suka, upss..sama sama suka ??? artinya Astid juga suka dong sama seniornya itu hmm...Pertengkaran mereka yang paling heboh itu saat hari terakhir MOS saat itu semua murid baru berkumpul di lapangan untuk penutupan tapi tiba tiba hujan turun,si senior hanya berniat menertibkan para murid baru itu dan sedikit bercanda, “yang lari kambing” candanya tapi bersamaan dengan itu Astrid lewat dan dengan jahilnya dia membalas “ yang tinggal kambing bloon”sambil terkekeh tapi seniornya mendengarnya “eh,sini lu jangan masuk di ruangan dulu” panggilnya karena tersinggung dengan perkataan Astrid tadi,tanpa mereka sadari di tengah hujan keras mereka berdebat hanya karena candaan mereka masing masing,semua mata tertuju pada mereka hingga akhirnya salah satu temannya melerai mereka “eh,apa apaan kalian,kalian sudah pada gede’ kok masi main hujan hujanan,eh lu masuk di ruangan lu cepat,lu juga Bara harusnya malu sama adek kelas” , “ia kak”sahut Astrid dengan nada sopan tidak seperti saat dia berbicara dengan seniornya yang satu itu. Malamnya Astrid terus memikirkan seniornya itu, “jadi namanya Bara yahhh” keren juga puji Astrid tanpa sadar,”ah..keren??? hallo Trid apa apaan sih lo muji muji dia baik juga nggak”batinnya perang menilai Bara seniornya itu.
MOS pun telah selesai,sekarang Astrid resmi memakai putih abuabu. Tapi hari pertama yang dia inginkan indah tiba tiba gelap seketika saat dia melihat senior yang paliiiiiiiing Astrid keselin,dengan mata sinis Astrid menatapnya tapi dalam hati dia sungguh kagum. Tanpa sadar mereka makin sering bertemu,sms-an yang Astrid pun binung kenapa bisa seniornya itu dapat nomornya. Di tiap pertemuan mereka berdua selalu saja ada perdebatan,seakaan akan mereka bermusuhan sejak jaman purbakala saja,tanpa mereka sadari karena permusuhan itu ada cinta yang hadir dalam diri mereka bukan sekedar suka saja,sehari mereka tidak ribut di sekolah pasti mereka perangnya melalui sms,tapi seiring waktupun Bara yang sudah kelas 3 akan meninggalkan sekolah itu,meninggalkan musuh bebuyutan tercintanya,dia tidak ingin pergi begitu saja tanpa tau jawaban dari perasaan yang dia pendam selama pertengkaran mereka,selama dia pertama lihat Astrid,dan selama itu Bara hanya bisa sebagai musuhnya agar bisa bersama Astrid.
Besoknya Bara meminta di temani temannya ke kelas Astrid,dari kejauhan Astrid sudah melihat seniornya itu dan mengambil ancang ancang bersiap perang lagi,tapi untuk pertama kalinya Astrid merasa deg deg-an apa lagi saat Bara ada di hadapannya,dengan salah tingkah Astrid mengeluarkan jurus judesnya “apa lagi kak ??? mau perang lagi ??”,, “hmm,nggak.lo ikut gue bentar mau ?? kata Bara dengan sopannya tidak seperti biasanya. Astrid yang heran melihat tingkah Seniornya itu menurut saja saat tangannya di tarik dengan tampang polosnya sambil mengerutkan keningnya,tapi yang heran bukan Cuma Astrid saja tapi seluruh siswa yang melihat mereka,karena setahu mereka Astrid dan seniornya itu tidak pernah tampak akur. Setelah agak jauh dari keramaian Bara melepas genggamannya,tiba tiba keringat bercucuran meluncur di dahinya sebesar biji jagung,suaranya yang biasa judes terdengar melemah hingga nyaris tidak terdengar dan melembut, “Trid sebelumnya gue mau minta maaf ma lo,yah lo taukan selama lo jadi murid baru hidup lo di sekolah ini gak pernah tenang,mana kalau pulang gue gangguin lo lewat sms lagi,” katanya dengan terbata bata dan merasa salah sambil menundukkan kepalanya, “hmm,gak papa kok kak malah gue seneng lagi karena gue punya hiburan heheh...”dengan santai Astrid menjawabnya di sertai tawa kecil tanpa sadar kalau seniornya itu sedang olahrag jantung menahan rasa gugup,malu dan takutnya itu, “jadi kakak Cuma mau minta maaf gitu ?? sampai bawa gue sejauh ini,mentang mentang dah mau lulus...” Astrid terus saja celoteh dengan santainya dan memasang wajah polosnya, “bukan Cuma itu Trid,sebenarnya gu..gue sayang ma lo” , “ha ??apa kakak bilang ?? aduh kakak jangan bercanda deh gak lucu tauk.”Astrid kaget mendengar apa yang seniornya itu katakan,seketika pipinya yang putih bersemu merah,hingga pipinya tampak merona, dan terasa panas bila di sentuh,Astrid terus terusan berbicara untuk menutupi rasa malu dan salah tingkahnya,tapi dari gerakannya saja sudah menunjukkan kalau dia salah tingkah,tiba tiba jari telunjuk Bara menempel di bibirnya menandakan dia ingin Astrid berhenti ngoceh, “usstt,,kok gue di bilang bercanda,serius nih.jadi gimana??” tanya Bara dengan nada yang sudah lumayan santai dan judes lagi sambil mengerlipkan mata kirinya merilekskan suasana, “ah??gimana apanya sih kak??” tanya Astrid dengan nada ngejek dan sok tidak tau yang di maksudkan seniornya itu, “ aduh Trid gue gak bercanda nih,buruan jawab gue harus masuk Lab buat praktek lagi” desak Bara dengan wajah cemas , “jawab apaan sih,kakak gak ngong juga” , “ gue suka ma lo Trid,gue sayang,Gue mau lo jadi pacar gue,bukan musuh gue lagi...” spontan kata kata itu telah keluar dari mulutnya,dan Bara merasa lega akhirnya kata kata yang mengganjal di kerongkongannya itu telah keluar juga, tapi keburu Astrid menjawab,Bara sudah mendapatkan isyarat dari temannya untuk segera masuk Lab,terpaksa Bara harus meninggalkan Astrid dengan rasa bersalah karena tidak menjawab semua pertanyaan dari benak seniornya itu.
Penguman terpasang di tiap sudut sekolah,ada banyak nama terpampang termasuk nama Bara, harusnya di wajahnya terpasang raut kesenangan tapi ini malah kebalikannya,Bara sedih karena tidak tau jawaban dari Astrid tapi dia juga senang paling tidak Astrid tau kalau senior yang paling nyebellin dari pertama bertemu hingga akhir itu sayang sama Dia,Bara pun tidak pernah memberikan kabar lagi ke Astrid,dia entah ada di universitas mana melanjutkan pendidikannya,semantara Astrid masih harus melanjutkan sekolahnya dan berusaha menghilangkan rasa bersalahnya itu.
Thanks for time J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar